Kendal (Humas) – Sebagai wujud nyata kepedulian terhadap kelestarian alam, tim Ekoteologi berkolaborasi dengan dewan guru serta kader Adiwiyata dari tiga madrasah menggelar aksi penanaman pohon pada Kamis (29/1/2026). Kegiatan ini dipusatkan di lingkungan MI Al Islam Gentinggunung, sebuah madrasah yang terletak di kawasan sejuk lereng Gunung Prau.
Aksi ini melibatkan sinergi dari MI Al Islam Gentinggunung, MI NU 45 Trimulyo, dan MTs NU 08 Gemuh. Tidak hanya diikuti oleh pihak madrasah, acara ini juga dihadiri langsung oleh Kepala Kantor Kementerian Agama (Kankemenag) Kabupaten Kendal, Zainal Fatah beserta jajarannya, serta pengurus dan anggota Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kankemenag Kendal.
Kegiatan ini digagas untuk menanamkan rasa cinta lingkungan kepada para siswa (kader Adiwiyata) sekaligus menjaga ekosistem pegunungan agar tetap asri dan terjaga dari ancaman longsor maupun kekeringan.
Kepala Kankemenag Kendal, Zainal Fatah dalam sambutannya memberikan apresiasi yang tinggi atas inisiatif kolaboratif ini. Beliau menekankan bahwa menjaga alam adalah bagian dari tanggung jawab moral setiap insan.
“Menanam pohon bukan sekadar menancapkan bibit ke tanah, tapi merupakan manifestasi iman kita dalam menjaga alam semesta. Saya sangat bangga melihat madrasah-madrasah kita bersinergi dengan tim ekoteologi untuk aksi nyata ini. Semoga pohon-pohon yang kita tanam di lereng Prau ini menjadi saksi amal jariyah dan memberikan manfaat bagi generasi mendatang,” ungkapnya.
Pemilihan lokasi di MI Al Islam Gentinggunung bukan tanpa alasan. Lokasinya yang berada di lereng gunung menjadikan area ini sebagai wilayah tangkapan air yang krusial. Kehadiran kader Adiwiyata dari MI NU 45 Trimulyo dan MTs NU 08 Gemuh juga menjadi ajang pertukaran ilmu mengenai pengelolaan sekolah ramah lingkungan.
Para anggota DWP Kankemenag Kendal yang hadir pun turut serta mendampingi proses penanaman, memberikan semangat kepada para siswa agar terus menjaga pohon-pohon tersebut hingga tumbuh besar.
Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan kesadaran ekologis tidak hanya berhenti pada seremoni penanaman, tetapi menjadi budaya yang terus berlanjut di lingkungan madrasah di seluruh Kabupaten Kendal.







