Kendal (Humas) – Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kendal menggelar rapat koordinasi guna membahas persiapan pelaksanaan program Masjid Ramah Pemudik Tahun 1447 H/2026 M yang digagas oleh Kementerian Agama Republik Indonesia. Rapat berlangsung pada Senin (9/3/2026) di ruang kerja Kepala Kantor.
Kegiatan tersebut dihadiri oleh Kepala Seksi Bimas Islam beserta staf, Analis SDM, para Kepala KUA yang wilayahnya ditunjuk sebagai titik lokasi Masjid Ramah Pemudik, serta para Penyuluh Agama. Rapat dipimpin oleh Plt. Kepala Kantor Kemenag Kendal, Maesaroh.
Dalam arahannya, Maesaroh menyampaikan bahwa program Masjid Ramah Pemudik merupakan tindak lanjut dari hasil koordinasi melalui rapat daring bersama Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah. Ia menegaskan pentingnya keterlibatan aktif jajaran Kementerian Agama dalam mendukung kelancaran arus mudik tahun ini
Menurutnya, masjid menjadi tempat yang paling efektif untuk disinggahi para pemudik yang melakukan perjalanan jauh.Oleh karena itu, melalui program ini Kementerian Agama diharapkan dapat hadir di tengah masyarakat dengan menyediakan fasilitas istirahat yang nyaman dan aman bagi para pemudik.
“Masjid adalah tempat yang paling mudah dijangkau oleh masyarakat. Kemenag harus benar-benar hadir untuk melayani para pemudik yang membutuhkan tempat beristirahat selama perjalanan,” ujarnya.
Di Kabupaten Kendal sendiri terdapat 13 titik lokasi masjid yang akan difungsikan sebagai Masjid Ramah Pemudik. Lokasi tersebut berada di jalur yang dilalui pemudik, di antaranya wilayah Kecamatan Weleri, Cepiring, Kendal, Brangsong, Kaliwungu, serta rest area di Ringinarum.
Maesaroh menegaskan bahwa perlu dilakukan koordinasi intensif dengan para takmir masjid untuk memastikan kesiapan fasilitas bagi pemudik. Beberapa hal yang perlu dipastikan antara lain ketersediaan MCK yang memadai, area parkir yang cukup, tempat istirahat yang nyaman, serta fasilitas pengisian daya telepon seluler.
Selain itu, Ia juga mendorong adanya penyediaan minuman atau takjil bagi para pemudik, serta kemungkinan kerja sama dengan layanan pijat tuna netra dengan sistem pembayaran jasa oleh pemudik. Koordinasi dengan dinas kesehatan juga diperlukan guna menghadirkan tenaga medis di lokasi tertentu apabila memungkinkan.
Dalam kesempatan tersebut, Maesaroh juga meminta agar para penyuluh agama turut dilibatkan secara aktif dengan sistem penjadwalan. Tidak hanya penyuluh agama Islam, tetapi juga penyuluh lintas agama agar dapat bersama-sama memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Para penyuluh diharapkan menjadi penanggung jawab lapangan yang memantau kondisi lokasi, melaporkan kegiatan secara berkala.
Program Masjid Ramah Pemudik di Kabupaten Kendal dijadwalkan mulai beroperasi pada 16 Maret 2026 hingga H+7 Lebaran, sebagai bagian dari upaya memberikan layanan terbaik bagi masyarakat yang melakukan perjalanan mudik.
Melalui program ini, diharapkan para pemudik dapat beristirahat dengan lebih nyaman dan aman, sehingga mampu meminimalisir risiko kelelahan di perjalanan yang berpotensi menyebabkan kecelakaan.









