Kendal – Suasana dini hari di Kabupaten Kendal terasa berbeda. Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid untuk pertama kalinya hadir di Kendal dalam agenda sahur bersama lintas agama yang berlangsung hangat dan penuh kekhidmatan, Senin (23/2/2026) di Pendopo Kabupaten Kendal.
Kedatangannya bersama rombongan disambut langsung oleh Bupati Kendal, Wakil Bupati, Kapolres, Ketua NU, serta sejumlah tokoh masyarakat Kendal. Momentum sahur kebangsaan tersebut menjadi ruang silaturahmi sekaligus refleksi spiritual di bulan Ramadan.
Dalam tausiyahnya, Sinta Nuriyah mengajak masyarakat untuk memahami esensi dan hakikat puasa sebagaimana termaktub dalam Surah Al-Baqarah ayat 183. Ia menegaskan bahwa puasa bukan sekadar menjalankan kewajiban tahunan, melainkan sarana pembentukan karakter dan ketakwaan.
“Puasa bukan hanya menjalankan kewajiban di bulan Ramadan, tetapi bagaimana kita bisa mencapai derajat takwa, la‘allakum tattaqun, bukan hanya pada bulan ini saja, melainkan dalam kehidupan kita seterusnya. Puasa harus melahirkan manusia yang berbudi luhur,” ujarnya.
Menurutnya, nilai ketakwaan harus tercermin dalam sikap sehari-hari, seperti saling menghormati, menjaga persaudaraan, serta memperkuat kepedulian sosial di tengah masyarakat yang majemuk.
Sahur bersama tersebut juga dihadiri perwakilan berbagai agama. Dalam suasana penuh kebersamaan, Sinta Nuriyah mengajak seluruh peserta menyanyikan lagu “Satu Nusa Satu Bangsa” sebagai simbol persatuan dan toleransi.
“Kita hidup di Indonesia yang majemuk, berbeda agama, berbeda ras, berbeda suku. Justru dalam perbedaan itulah kita harus saling menyayangi, mengasihi, dan menghormati. Itulah semangat Bhinneka Tunggal Ika,” tuturnya.
Acara ditutup dengan mengenang sosok almarhum Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Para peserta bersama-sama melantunkan syiir munajat Abu Nawas yang sarat makna kerendahan hati seorang hamba kepada Tuhannya:
Ilahi lastu lil firdawsi ahla
Wala aqwa ‘ala naril jahimi
“Wahai Tuhan, ku tak layak ke surga-Mu,
Namun tak kuat menahan siksa neraka-Mu.
Maka berilah taubat dan ampunilah dosaku,
Sesungguhnya Engkau Pengampun dosa besar hamba-Mu.”
Lantunan doa tersebut menutup sahur kebangsaan dengan suasana haru dan reflektif, menguatkan pesan bahwa Ramadan adalah momentum memperdalam spiritualitas sekaligus mempererat persaudaraan dalam keberagaman.







