Kendal – Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. Nasaruddin Umar, menegaskan pentingnya memahami Al-Qur’an secara utuh dan mendalam pada peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-15 Jam’iyyatul Hafidzotil Qur’an (JHQ) Kabupaten Kendal sekaligus Pengukuhan Pengurus JHQ Kabupaten Kendal Masa Khidmad 2026–2030. Kegiatan tersebut berlangsung di Pendopo Kabupaten Kendal, Sabtu (10/1/2026).
Menteri Agama yang juga Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta itu hadir didampingi pejabat terkait serta Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah. Kedatangan rombongan disambut oleh Wakil Bupati Kendal beserta istri, Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Kendal, serta Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kendal bersama jajarannya.
Dalam sambutannya, Prof. Dr. Nasaruddin Umar menyampaikan apresiasi yang tinggi atas peran dan kehadiran para ibu hafidzah. Menurutnya, tanggung jawab para penghafal Al-Qur’an tidak hanya sebatas menjaga keutuhan teks ayat secara lisan, tetapi juga menuntut komitmen untuk menghayati, meneladani, dan mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Hal tersebut menjadi wujud nyata bahwa Al-Qur’an benar-benar hidup dan membumi di tengah umat.
Menag juga mengingatkan bahwa wahyu pertama yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW berupa perintah membaca (iqra’) mengandung makna yang sangat mendalam, karena perintah tersebut tidak hanya bermakna tekstual, tetapi memiliki tingkatan pemahaman dan pengamalan dalam kehidupan umat Islam.
“Iqra’ itu bukan hanya sekali. Perintah membaca itu diulang sampai tiga kali. Iqra’ pertama artinya sekadar bisa membaca. Kalau baru bisa membaca, itu baru iqra’ yang pertama,” ujar Menag.
Ia menjelaskan, iqra’ kedua adalah ketika seseorang tidak hanya mampu membaca Al-Qur’an, tetapi juga memahami maknanya.
“Iqra’ yang kedua adalah bisa membaca sekaligus memahami artinya. Namun itu pun belum cukup,” lanjutnya.
Sementara iqra’ ketiga, menurutnya, adalah tahapan ketika Al-Qur’an tidak hanya dibaca dan dipahami, tetapi juga dihayati, diamalkan, serta menjiwai seluruh aspek kehidupan.
“Iqra’ yang ketiga adalah mampu menghayati dan mengamalkan ayat-ayat Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari,” jelasnya.
Lebih jauh, Prof. Nasaruddin menyebutkan adanya tingkatan iqra’ keempat yang merupakan tahap paling berat.
“Iqra’ yang keempat adalah mampu menempatkan Al-Qur’an sebagai Kalamullah sepenuhnya. Ini yang paling berat, dan hanya para nabi yang mampu mencapainya,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Menteri Agama juga berpesan agar para penghafal dan pecinta Al-Qur’an senantiasa menjaga kerendahan hati dalam proses belajar.
“Jangan pernah sombong dalam mempelajari Al-Qur’an. Kesombongan akan menutup nur Al-Qur’an masuk ke dalam jiwa kita,” pesannya.
Ia menegaskan bahwa Al-Qur’an merupakan petunjuk bagi seluruh umat manusia sekaligus pedoman hidup bagi orang-orang yang bertaqwa.
“Al-Qur’an harus terus dibaca, dipelajari, dan diamalkan sebagai pedoman hidup umat Islam,” pungkasnya.
Acara Harlah ke-15 JHQ Kendal dan pengukuhan pengurus baru tersebut berlangsung khidmat dan diharapkan mampu memperkuat peran JHQ dalam membumikan nilai-nilai Al-Qur’an di tengah masyarakat Kabupaten Kendal.







